Rabu, 27 November 2013

Ragam Cairan Mesin, Perbaiki Kerusakan Tanpa Overhaul



Tiga cairan bikin awet komponen

Aneka produk cairan ini penggunaannya mirip. Padahal kalau ditelaah lebih dalam terbukti berbeda. Katanya dengan memasukkan ke dalam mesin, jeroan yang rusak bisa diperbaiki. Maca cih?

Cairan yang pertama yaitu Xado Revitalizant. Katanya berfungsi untuk memperbaiki bagian dalam mesin yang sudah baret. “Cairan Xado akan mengisi permukaan yang sudah rusak, sehingga permukaan kembali rata,” kata Salim, marketing director PT Nanotech Indo Artha, pemegang licence Xado di Indonesia.
Cairan ini dimasukkan usai ganti oli. Produk yang berasal dari Ukraina ini dijual dengan banderol Rp 118.750. “Harga segitu bukan masalah. Daripada harus ganti komponen,” promosi Salim berapi-api.
Cairan kedua Turbo Moto. Produk ini juga disebut engine conditioner. Produk ini mengandung partikel khusus yang memberikan lapisan pada permukaan logam yang bergesekan. “Jadi, berfungsi untuk meningkatkan kualitas oli yang katanya sebagai pelumas tapi masih menyebabkan keausan pada mesin yang bergesekan,” cerita pria asal Pekanbaru, Riau ini. Harganya hanya Rp 15 ribu saja.
Sedangkan yang ketiga adalah Anticarbon. Dimasukkan ke dalam mesin sebagai engine flush. Jadi dilakukan sebelum oli yang lama dikuras. Kemudian mesin dihidupkan baru deh oli dibuang. “Harga cuma Rp 15 ribu,” kata pria yang bisa dihubungi di (021) 55966217.

Komparasi Cop Busi Aftermarket Vs Orisinal Favorit, Mana Yang Lebih Bagus?



Searah jarum jam (atas tengah): CBR, V-ixion, cop busi nyala, HOL, YZ-125, Kitaco, TIger, Blade, Mio

Salah satu komponen dalam sistem pengapian adalah cop busi (CB). Berfungsi sebagai penghantar arus dari kabel busi ke busi. Kini di pasaran banyak ditemukan CB aftermarket. Namun banyak juga CB bawaan motor yang jadi favorit.

Untuk memberi panduan, mana sih yang bisa dipilih untuk motor kesayangan, kami mengomparasinya. Parameternya ada 3, yaitu tahanan, kualitas sil dan tentu saja harga.
Tahanan berhubungan dengan daya hantar CB tersebut, makin kecil tentu arus yang bisa dihantar ke busi makin maksimal. Efeknya api di busi makin besar. “Memang bisa makin besar, namun hanya berpengaruh pada putaran bawah sampai menengah,” terang Tomy Huang, pencetus CDI BRT.
Masih menurutnya, tahanan tetap diperlukan. “Untuk menahan radiasi,” ujarnya. Radiasi pengapian sering mengganggu lingkungan, seperti gambar televisi jadi bergoyang. Selain itu, “Lama-lama bisa berakibat merusak komponen motor, seperti spidometer digital,” lanjut Tomy Huang.
Bicara kualitas sil, berhubungan dengan daya lindung CB terhadap busi. Terutama dari air dan daya tahan terhadap panas. CB yang bagus punya sil yang kuat dan elastis, sehingga bisa mencegah air menyusup ke busi yang berakibat pengapian bocor. Juga tahan lama walaupun kena panas mesin.
Untuk harga, tentu saja berhubungan dengan kantong, ya enggak? Hehe… Peserta komparasi dari aftermarket ada merek Kitaco, Hol dan Cop Busi Nyala. Sedang part orisinal ada dari Honda CBR, Blade, Tiger. Lalu dari Yamaha Mio dan V-Ixion.
Untuk mengetahui hambatan, CB diukur pakai multitester digital merek Sanwa tipe CD800a. Untuk kualitas sil, diamati secara visual dan coba dipasang pada sebuah busi.
Kitaco
Paling mencolok, karena warna oranye! Saat diukur tahanan yang terbaca 0 Ohm, sama sekali tak ada hambatan. Selain itu kualitas sil harus diperhatikan lagi, karena kendati elastis, saat dipasang pada busi terlihat sangat longgar. Selain air gampang masuk, CB juga bisa lepas dari busi kala kena getaran mesin. Kelebihannya, pemasangan dengan kabel busi diberi klem yang dibaut, sehingga kuat. Harganya berkisar Rp 30 ribu.
Hol
Bentuknya mirip part orisinal, namun finishing harus dibenahi lagi. Tahanan kala dites juga menunjukkan angka 0 Ohm. Sil tergolong bagus, mendekap cukup kencang dan penuh pada badan busi. CB ini dihargai Rp 25 ribu.
Cop Busi Nyala
Di kemasannya hanya dicantumkan nama tersebut. Sesuai namanya, CB ini menyala kala terpasang, sempat booming beberapa waktu lalu. Nilai hambatan CB ini cukup mengagetkan, mencapai 21.960 Ohm. Terbesar pada komparasi ini. Kualitas sil kurang mendukung, sangat kaku dan tak rapi. Sangat tidak direkomendasi kala hujan. Harganya hanya Rp 4.650.
Yamaha Mio
Salah satu CB terfavorit di kalangan tim balap. “Mendekap sangat kencang dan ada tahanan airnya,” urai Ari Black, salah satu mekanik balap tim Aries Putra. Memang kualitas CB Mio silnya sangat bagus, kenyal dan bagian depan ada bagian mirip payung, sehingga air tak mungkin masuk. Tahanannya kala diukur hanya 4.930 Ohm. Harganya sekitar Rp 45 ribu.
Yamaha V-Ixion
Cukup sering digunakan pengguna motor sport. Hambatannya terbaca 5.100 Ohm. Kualitas sil tergolong bagus dan menutup ¾ badan busi. Dengan model panjang, bisa dijadikan kala pakai koil yang kabel businya pendek. Harganya berkisar Rp 40 ribu.
Honda Tiger
Kualitas sil cukup bagus. Artinya kenyal dan tak mudah sobek. Sayang lubang cukup besar, sehingga masih menyisakan sedikit celah yang memungkinkan air masuk. Harga CB yang punya tahanan 5.000 Ohm ini hanya Rp 15 ribu.
Honda Blade
Secara harga, penampilan dan kualitas mirip dengan milik Tiger, bedanya terletak pada nilai tahanan. Milik Blade hanya 4.950 Ohm.
Honda CBR 150R
Bentuk dan kualitas mirip milik Yamaha V-Ixion. Namun mendekap busi sampai penuh. Tahanannya mencapai 5.200 Ohm. Sayang, harga tak bisa dipatok, lantaran cukup sulit didapat.

Yamaha YZ-125

Menjadi wakil dari motor Special Engine (SE). Memang sangat sulit didapat sehingga harga pun tergolong ‘gelap’, namun untuk kategori barang orisinal, tahanannya paling rendah, hanya 4.750 Ohm. Sayang, meskipun sil kenyal, namun lubang sangat besar sehingga saat dipasang mudah copot.
Data harga cop busi


Merek Tahanan Kualitas sil Harga
Kitaco 0 OHM kurang 45 ribu
Hol 0 OHM bagus 25 ribu
Cop busi Nyala 21.960 OHM kurang 4.650
Yamaha Mio 4.930 OHM sangat bagus 45 ribu
Yamaha V-ixion 5.100 OHM bagus 40 ribu
Honda TIger 5.000 OHM cukup 15 ribu
Honda Blade 4.950 OHM cukup 15 ribu
Honda CBR 150R 5.200 OHM bagus -
Yamaha YZ – 125 4.750 OHM kurang -

Premium Vs Pertamax Pada Sepeda Motor, Mana Lebih Efisien?

Kendati Mentri ESDM menyatakan kalau motor boleh menggunakan bensin Premium, namun pro-kontra wacana yang terjadi beberapa minggu lalu bikin penasaran. Terlebih oleh ekspertis, pemakaian Pertamax, performa mesin jadi meningkat dan irit pemakaian bahan bakar.
Nah, untuk menjawab kebenaran itu ,OTOMOTIF   mencoba membandingkan penggunaan bensin Premium dan Pertamax di tiga motor berbeda, 2 bebek dan 1 skutik (skuter matik). Untuk uji cobanya, dilakukan ke motor yang TVS Rockz 125 keluaran 2009 & Kawasaki EDGE keluaran 2010 dan skutik Suzuki Skydrive lansiran 2009. Apa benar pakai Pertamax lebih efisien daripada pakai Premium? Yuk, kita tes.

Premium

Pertamax

Pertamax bikin pembakaran lebih sempurna

Saat pengetesan, spidometer dipanteng pada kecepatan 40-60 km/jam

KONSUMSI

Pada pengetesan ini, masing-masing motor tes diisi secara bergantian dari Premium lalu Pertamax. Metode pengetesannya, bahan bakar sebanyak 1 liter dimasukkan ke dalam tabung khusus. Kemudian rider (berbobot 80 kg), nyemplak motor yang dipakai dalam proses pengetesan.
Kecepatan yang dipakai adalah rata-rata pemakaian dalam kota (40-60 km/jam). Hasil dari ujicoba ini baru kelihatan setelah bahan bakar yang diisikan dalam tabung khusus habis.
Oke, sekarang hasilnya. Saat Rockz pakai Premium, untuk 1 liternya bisa dipakai buat menempuh jarak 41 km. Sementara pada motor tes jenis skutik, mesin motor mampu bertahan hidup sampai menempuh jarak 32 km.
Ketika bahan bakarnya di­ganti dengan Pertamax, bebek India tersebut mampu berjalan sampai 47 km dan Skydrive bisa melenggang kemudian berhenti setelah 33 km.
PERFORMA
Untuk mengetahui performa perbandingan kedua bensin itu, OTOMOTIF sempat mengetesnya beberapa bulan lalu (OTOMOTIF edisi 35/XIX hal 18).
Seberapa besar perubahan power dan torsi yang didapat dilakukan pada Kawasaki Edge, dengan menggunakan alat Dyno Test (Dynojet) milik bengkel Sportisi Motorsport di kawasan Rawamangun, Jaktim.
Ketika nenggak Premium, diperoleh power maksimalnya 7,08 dk/7.400 rpm. Sedangkan torsi puncak yang dapat diraih 7,51 Nm/4.200 rpm. Begitu minumnya Pertamax, didapat angka 7,07 dk/7.700 rpm untuk power dan torsi maksimumnya 7,85 Nm/4.100 rpm (lebih detail lihat tabel).
VALUE FOR MONEY
Untuk kegiatan se­hari-harinya, dengan asum­si pemakaian bahan bakar bisa memakan jarak 100 km. Jika melihat data tes pemakaian premium pada TVS Rockz sebesar 41 km/liter, maka dalam sehari perlu mengeluarkan dana Rp 10.800 untuk beli sekitar 2,4 liter (100 km dibagi 41 km/liter) Premium.
Sementara bila ‘minum’ Pertamax, untuk beli 2,1 liter (hasil tes 47 km/liter) perlu merogoh kocek Rp 13.650. (data pengeluaran per bulan lihat tabel).

Pakai Pertamax enggak hanya jarak tempuh juga dana ikutan nambah

Nah, pada Suzuki Skydrive, maka per liternya sanggup menempuh jarak 32 km untuk Premium dan 33 km bila nenggak Pertamax. Anggaran untuk membeli bahan bakarnya Rp 13.950 (Premium) dan kalau beli Pertamax butuh Rp 19.500 

KESIMPULAN

Bila dilihat dari hasil pengetesan, memang benar bahwa pemakaian Pertamax membuat jarak tempuh jadi lebih jauh. Dengan kata lain, pemakaian bahan bakar jadi lebih irit.

Namun, pengeluaran konsumen per bulan untuk beli bahan bakar jadi lebih besar sekitar 30%.
Sementara untuk performa motor yang pakai Pertamax, dari hasil pengetesan memang terlihat catatan torsinya naik. Itu berarti mesin cukup responsif di putaran bawah.
Tabel hasil dyno



Bensin Power Torsi

Standar (Premium) 7,08 dk / 7.400 rpm 7,51 Nm / 4.200 rpm

Pertamax 7,07 dk / 7.700 rpm 7.85 Nm / 4.100 rpm






Tabel biaya pemakaian sejauh 100 km perhari



Motor/bahan bakar Km Liter Liter per hari Per bulan
TVS Rockz



Premium 32 3,1 Rp 13.950 Rp 418.500
Pertamax 33 3 Rp 19.500 Rp 585.500
Suzuki Sydrive



Premium 41 2,4 Rp 10.800 Rp 324.000
Pertamax 47 2,1 Rp 13.650 Rp 409.500

Lima Merek Busi Motor Adu Taji, Bagaimana Hasilnya?


Sering ditulis soal peran busi dalam meningkatkan performa mesin. Bila ingin hasil pembakaran lebih optimal lagi, gunakan busi dengan material yang lebih baik dalam menghantar arus listrik. Misal berbahan iridium, perak dan sebagainya.

Nah, di pasaran busi seperti ini untuk motor lumayan menjamur. Untuk membuktikannya, kami coba menguji 5 produk yang paling banyak di pasaran pada Suzuki Satria FU gres dengan jarak tempuh baru 500 km.

Metode pengetesannya, diukur peningkatan performa yang dihasilkan lewat akselerasi, pakai Racelogic buatan Inggris. Karena asumsinya, semakin baik pembakaran yang tercipta di ruang bakar, maka tenaga otomatis akan makin terdongkrak. Sehingga berdampak terhadap peningkatan akselerasi.

Dari hasil pengukuran akselerasi menggunakan busi standar selama 5-6 kali run, didapat waktu tempuh terbaik 4,8 detik untuk mencapai kecepatan 0–60 km/jam. Sedang 0–80 km/jam = 7,9 detik dan 0–100 km/jam = 14,5 detik. Gimana dengan busi-busi berikut ini? Silakan lihat tabel hasil pengukuran.

SDG

Busi ini tergolong belum lama bercokol di Tanah Air. Tapi sudah cukup banyak tersebar di pasaran. Menurut Hengky dari Ven Star di sentra onderdil dan variasi sepeda motor Cibubur, Jaktim, produk ini konon berasal dari Cina.

Namun tak sedikit motormania beropini SDG adalah singkatan dari Shindengen, salah satu produsen part pengapian dari Thailand.

Banderolnya lumayan murah, yakni berkisar Rp 35–40 ribuan. Kemasannya unik, seperti kemasan lipstik. Material center electroda (CE) juga terbuat dari iridium dengan diameter 0,6 mm. Kata Hengky, untuk pembelian busi ini di gerainya, bila si pemercik bermasalah dalam 2 hari akan ia ganti baru.

Hasil pembakaran yang terlihat di elektroda mirip dengan busi Shark.

SHARK IRIDIUM

Kalau merek ini diklaim merupakan teknologi asal Jerman. Tapi uniknya kemasannya dibikin mirip Denso Iridum Power. Hanya saja beda warna dan dimensi. Bila kemasan produk Denso berwarna hijau kekuning-kuningan, maka Shark dilabur oranye kombinasi pink.

Bahan CE-nya juga dari iridium dengan diameter sama persis Denso Iridium Power, yakni 0,4 mm. Banderolnya hanya Rp 40 ribu. Hasil pengetesan, warna pembakaran di elektroda terlihat agak keabu-abuan yang menandakan pembakaran agak kering.

TDR TWIN IRIDIUM

Produk lansiran PT Mitra2000 yang bermarkas di Lodan, Ancol, Jakut. Kata Benny Rahmawan dari divisi R&D Mitra2000, busi TDR dibuat oleh pabrikan busi Volker asal Jerman. Untuk Satria FU menggunakan tipe 085T R1 0.7.

Sesuai tipenya (twin iridium), busi ini mengusung 2 bagian material iridium. Yaitu pada CE dan GE, dengan tujuan supaya hantaran arus listrik dari CE ke Ge lebih baik dan kuat. Sehingga pembakaran jadi makin sempurna. CE-nya mengusung diameter 0,7 mm.

Nah, karena punya material iridium yang lebih banyak dari kompetitornya, tak heran bila banderol busi ini lebih mahal, yakni Rp 125 ribu. Hasil pembakaran di busi setelah pengujian menunjukkan warna merah bata yang artinya pembakaran berlangsung baik.

SPLITFIRE

Menurut Anto dari Polaris di kawasan Jl. Kebon Jeruk III, Jakbar pemercik api di ruang bakar ini merupakan produk dari Amerika, seperti tertera pada kemasannya.

Materialnya mirip busi biasa (nikel), tapi pada ground electroda (GE) dibikin bercabang dua kayak lidah ular dengan tujuan untuk meminimalkan miss-fire. Sehingga pembakaran stabil terus.

Diameternya CE-nya juga mirip busi standar, yakni terukur sebesar 2,0 mm. Untuk Satria FU tipe yang digunakan adalah SF430C seharga Rp 37.500. Hasil pembakaran yang terlihat di elektroda setelah pengujian, mirip Denso. Namun agak sedikit kehitam-hitaman yang menandakan pembakaran mendekati basah.

DENSO IRIDIUM POWER

Produk ini berasal dari negeri Sakura. Sangat recommended untuk motor-motor keluaran Jepang lantaran busi standarnya banyak dipakai ATPM roda dua asal negeri Matahari Terbit tersebut. Banderolnya di pasaran sekitar Rp 90-100 ribuan.

Untuk Satria FU standar disarankan pakai tipe IU24. Sama halnya Thunder 125, Kawasaki Ninja 250 R, Yamaha Jupiter MX, Honda CS-1, BeAT dan sebagainya. Angka 24 di belakang tipe melambangkan tingkat kedinginan busi. Makin besar angkanya, maka spesifikasinya makin dingin.

Busi ini mengusung material iridium di bagian center electroda (CE). Dengan diameter CE terkecil dibanding kompetitornya, yakni 0,4 mm. “Hasil riset kami diameter segitu paling baik dalam menciptakan loncatan api kuat. Tidak perlu voltase yang terlalu tinggi dari koil untuk dapat api yang bagus,” bilang Doddy Hardianto, ass. marketing manager PT Denso Sales Indonesia.

Hasil pembakaran busi ini setelah pengujian, elektrodanya tampak berwana cokelat kemerah-merahan. Menujukkan pembakaran yang terjadi, sempurna.

Tabel hasil pengetesan





Akselerasi STD Denso TDR SplitFire SDG Shark
0 – 60 km / jam 5,4 detik 5,3 detik 5,3 detik 5,6 detik 5,4 detik 5,5 detik
0 – 80 km / jam 8,6 detik 8,4 detik 8,5 detik 8,8 detik 8,7 detik 8,8 detik
0 – 100 km / jam 14,5 detik 14,2 detik 14,3 detik 14,7 detik 14,6 detik 14,6 detik
0 – 100 m 8,2 detik 8,2 detik 8,2 detik 8,5 detik 8,5 detik 8,5 detik
0 – 201 m 12,5 detik 12,3 detik 12,4 detik 12,5 detik 12,6 detik 12,6 detik

Pakai HID? Ubah AC Ke DC Biar Gak Tekor


Pengguna lampu HID, terutama di motor bebek dan matik, terlebih dahulu harus mengubah kelistrikan lampu. Dari sistem AC ke DC. Dan, kalaupun sudah diubah, keluhan setrum aki tekor tetap masih sering dirasakan.

Kini enggak perlu khawatir lagi. Tinggal pasang anti tekor merek Doop ini. Bahkan enggak perlu repot lagi ngubah kelistrikan. “Tinggal pasang, aki juga enggak bakalan tekor,” promosi Albert dari CV Sumber Urip di MGK Kemayoran Otozone, Lt 6 Blok F1, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Jika motornya pakai satu lampu utama seperti Honda Scoopy, cukup pakai anti tekor seharga Rp 125.000. “Tapi, jika lampu utamanya dua, seperti Yamaha Jupiter atau Honda Vario, pakai yang dibanderol Rp 225.000,” promosi Albert.
Menurut Albert, alat ini juga membantu pengisian ke kiprok. Kabel dari kunci kontak ke switch lampu yang dapat listrik dari kiprok, diganti dari aki lewat kontak.
“Sehingga nyala lampu utama tidak perlu lagi menunggu mesin hidup, sudah Langsung byar. Soalnya kelistrikannya sudah langsung diubah ke DC,” jelas lelaki yang juga menjual HID untuk motor ini.
Langkah seperti ini mirip dengan di Honda Tiger atau Scorpio. “Begitu kunci kontak ON dan sakelar ON juga,, lampu langsung nyala. Tanpa harus menghidupkan mesin,” sergap brother yang bisa dihubungi di (021) 98-222-338. Gitchu.

Tes Karbu Vakum Vs Konvensional Mana Lebih Irit?



Beda sistem, selisih 6 Km

Tidak sedikit anggapan kalau karburator vakum tentu lebih boros bahan bakar ketimbang karbu tipe konvensional. Itu karena bukaan skep di sistem pengabut bahan bakar itu berdasar kinerja pengisapan mesin. Jadi, bukan karena tarikan tali gas yang mengangkat botol skep.

Demi menjawab anggapan itu, MOTOR Plus coba lakukan pengetesan. Tentu buat membuktikan, apakah anggapan itu tidak hanya sebatas asumsi. Tapi, memang berdasar hasil tes.

Uji coba dilakukan di Yamaha Mio. Skubek ini, tak hanya disukai wanita. Tapi, para penyuka akselerasi juga. Selain itu, buat pilihan karburator pengganti juga lebih banyak pilihannya.

Standarnya, Mio mengadopsi karbu Keihin NCV24. Dari kode part, terpantau jelas kalau karbu ini memiliki venturi 24 mm. Pilihan komponen aftermarket yang punya diameter sama, setidaknya ada dua pilihan. Yaitu, Mikuni TM24 mm dan juga Keihin PE24 mm.

Biar lebih spesifik, MOTOR Plus mengambil Keihin PE24 sebagai bahan tes. Karena dilihat dari banyaknya tunner atau penyuka adu kebut yang lebih banyak aplikasi karbu ini. Soal harga PE juga lebih murah ketimbang Mikuni. PE, dijual sekitar Rp 600 ribuan.

Memakai Yamaha Mio milik Kaper lansiran 2008, pertama kali dilakukan tes memakai karburator standar. Wadah bahan bakar, tidak lagi mengandalkan tangki bawaan motor.

Gantinya, Pertamax Plus 100 ml yang diisikan ke tabung infus yang slangnya dihubungkan ke karburator. Tapi sebelumnya, bensin yang tersisa di karburator dibuang lebih dulu. Main-jet dan pilot-jet, tetap standar. Yaitu, 110/ 38.


Spuyer standar bawaan(kiri). Pasang Keihin PE gak perlu ubahan(kanan)

Setelah siap, motor diajak berjalan. Kecepatan lebih banyak konstan bermain di angka 40-50 km/jam sesuai kondisi lalu lintas yang ramai lancar. Ternyata dari 100 ml yang dipakai, Mio mampu menempuh jarak 4 km. Jika diambil perbandingan, pakai karbu standar maka satu liter Pertamax Plus mampu membuat Mio berlari hingga 40 km.

Kini, giliran karbu konvensional. Main-jet dan pilot-jet, sesuai kondisi jual karbu di pasaran. Yaitu, 115/ 38. Dengan metode dan perlakuan yang sama, Mio kembali diajak berkeliling. Ini sesuai setingan permintaan mesin juga.

Kecepatan pun, tidak berubah. Konstan di 40–50 km/jam. Tapi, ini kali skubek Yamaha itu tidak mampu berjalan seperti ketika aplikasi karbu standar. Jarak 3,4 km merupakan jarak terjauh yang bisa dicapai ketika aplikasi Keihin PE24.

Jika dihitung-hitung lagi, untuk satu liter Pertamax Plus hanya mampu membuat Mio berjalan hingga 34 km. Jelas sudah perbandingannya. Keduanya, memiliki selisih 6 km. Pakai karburator vakum, memang sedikit lebih irit ketimbang pakai karbu konvensional.

Tapi selama jajal, akselerasi yang diberikan karbu konvensional terasa lebih responsif ketimbang standar. Grip gas dibuka spontan, pacuan lansung berlari! Biar lebih mantap dan terukur, next kita lakukan adu power dong.

Karburator Konvesional Vs Vakum, Antara Tarikan Dan Irit



Teknologi karburator vakum selangkah lebih maju, agar irit dan ramah lingkungan

Karburator, si pengabut bahan bakar ke mesin sudah mengalami kemajuan teknologi. Setelah sekian lama dijejali dengan karbu konvensional, belakangan motor-motor yang dipasarkan di Indonesia mengaplikasi karburator vakum. Karburator jenis ini punya kelebihan dibanding yang konvensional.

Sedikit diulas dulu soal penyebutannya. Mulai dari karburator yang kita kenal pertama, sistem konvensional. Bahasa tingginya, karbutaoor ini disebut Venturi Meter (VM). Kerjanya simpel. Volume atau debit suplai udara dan gas bahan bakar langsung diatur melalui gerak puntir gas. Puntiran gas, disalurkan kabel, menarik langsung botol skep atau piston skep.

Berbeda dengan karburator yang biasa disebut karbu vakum. Sebutan tekniknya, CV (Constant Velocity atau Constan Vacuum). Kerja karbu model ini berdasarkan kevakuman di ruang bakar. Penyuplai bahan bakar ini selevel lebih maju dari VM. Di CV, gerak naik-turun botol skep tergantung kevakuman di ruang bakar, atau tekanan udara antara inlet dan leher angsa.

“Jadi, pada karburator vakum, gerakan puntiran gas yang disalurkan kabel ke karburator kerjanya hanya memancing. Sebab, tarikan kabel gas memutar atau membuka klep kupu-kupu. Bukaan klep kupu-kupu ini yang mengatur tingkat kevakuman di ruang bakar,” jelas Cheppy Sugiarto, mekanik balap yang kini mulai mendalami seting karburator vakum untuk skubek balap tim AHRS.

Kabel dari selongsong gas dikaitkan dengan mekanisme klep kupu-kupu

Lalu, bagaimana naiknya si botol skep di karburator vakum? Nah, begini jelasnya. Karena kehampaan udara di ruang bakar dibuka oleh klep kupu-kupu, maka ia menyedot udara luar. Yang disedot karet membran yang posisinya berada di atas karbu.

Membran ini yang terhubung botol skep di karburator CV. Karena membran tersedot, botol skep tertarik ke atas. Maka, tertarik juga lah si jarum skep yang terhubung dengan botol skep.

Sistem ini membuat suplai bahan bakar lebih teratur sesuai kebutuhan ruang bakar. Tingkat kevakuman akibat putaran mesin yang menentukan tinggi-rendahnya bukaan botol skep. “Jadi, karburator vakum lebih irit. Karena skep dan jarumnya tidak langsung mengangkat begitu selongsong gas dipuntir,” timpal Adriansyah, mekanik Adri Speed di Jakarta Timur

Toh, baik Cheppy dan Adriansyah, mengaku karburator model CV kurang begitu disukai untuk penyuka motor dengan karakter tarikan kontan. Sebabnya, ya itu tadi. Meski gas dipuntir, motor belum mau langsung melaju. Kan, suplai bensinnya ditentukan kevakuman di ruang bakar.

Jadi, kalau pakai karburator vakum, percuma langsung betot gas. Karena karburator akan tetap menyuplai bahan bakar sesuai permintaan kebutuhan dan putaran mesin.

“Jadi, malah rugi. Karena udara dipaksa masuk sebanyak-banyaknya ke dalam ruang bakar, sedang debit bahan bakarnya sedikit. Hasilnya pembakaran pun tidak optimal dan tenaga seperti kosong sesaat. Tenaga baru akan mengisi kembali pada durasi waktu sekira 1 detik,” tegas Cheppy dan Adriansyah.

Jadi, jangan aneh kalau motor yang pakai karburator vakum alias CV lebih bolot tarikannya. Toh motor ini lebih irit.  Tinggal dipilih, mau ngebut langsung pakai karburator konvensional. Kalau mau berhemat, ya pilih tipe vakum.